Sabtu, 08 Juni 2013

memang tidak ada yang berkualitas dengan harga murah.... seperti produk lemari jati karya anak Jepara.... lemari ini mampu mnembus pasar internasional. berminat hubungi 085883868052








Sabtu, 11 Mei 2013

Jepara Tempat Para Wanita Hebat

Dear Pikiran..........

Wanita dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perempuan dewasa. Dewasa menurut saya adalah sikap dan cara saat menghadapi suatu masalah dengan bijak. Para wanita di Jepara merupakan wanita yang hebat. Kenapa?

Wanita Jepara banyak yang berusaha membantu perekonomian keluarga. Salah satunya adalah dengan menjadi buruh ngamplas. Ngamplas menjadi favorit karena peluang usaha mebel sangat menjanjikan di Jepara. Bagaimana ngamplas itu?

Ngamplas adalah proses penghalusan serat kayu  dengan menggunakan kertas amplas, dengan cara memakai mesin atau menggunakan kekuatan tangan. Nah, dalam kegiatan ini para wanita kebanyakan ngamplas dengan menggunakan tangan. Para wanita ini dengan menggunakan kekuatan tangan untuk mendapatkan kayu yang halus. Terbayang rasa capeknya.

Gaji memang ada, tapi realita yang lain juga tak kalah ada. rata-rata 12.000-15.000 perhari. Pulang ke rumah para wanita ini tetap menjalani sebagai ibu rumah tangga. Memasak, mencuci yahh pekerjaan rumah tangga seperti biasa.

hebat sekali para wanita pekerja amplas ini. terimakasi bu, mbak ngamplas. terimakasih wanita buruh Indonesia.

kaligrafi jati jeparaku luar biasa indah (subhanallah) harga pun terjangkau 085883868052

ya... jepara kaya akan potensi sdm yang mengahsilkan karya yang sangat mengagumkan... seperti kaligrafi berikut ini:





pengusaha 'wati' mebel

aku memang perempuan, yang memiliki sebuah toko warisan almarhum bapak. toko mebel ini memang dari dulu terkenal dengan kreditnya... dan sampai sekarang aku pun tak bisa menolak jika ada pelanggan yang inginkan hal itu.

dan sampai sekarang aku merasa sangat berat dengan kredit ini. teman-temanku dan keluarga menganjurkan untuk aku bekerjasama dengan bank, atau adira, ya semacam itu. tapi aku masih belum menentukan sikap.

tadi malam aku share dengan sahabat. aku berpikiran bahwa perempuan tidak diberi kesempatan untuk memimpin.  dia berkata bahwa karena keadaan perempuan, peran serta sikap perempuan yang tidak memberi kesempatan untuk perempuan jadi pemimpin...

apa benar begitu?? aku yang perempuan tidak dapat jadi pemimpin yang baik? dan mungkin jadi pemimpin di toko mebelku sendiri?? apa saatnya aku butuh pendamping?


 bupet spanyol menawan dan menyenangkan jika anda yang memiliki kontak me 085883868052

Rabu, 23 Januari 2013

BIBIR BATU NISAN


24 November 1999
Senja berwarna merah tampak indah, berhias padi menguning serempak. Disegala penjuru pematang sawah terdengar gemericik air yang satu sama lain berlari tak mau ketinggalan. Mengalir deras, tak menghiraukan kerikil batu yang merintang. Dari kejauhan tampak rumah berlampu bolam yang mulai redup cahayanya. Samar terlihat sesorang memasuki rumah itu.
“ Minah, cakmano[1]? Udah dapat kerja?”
“ Belum Mak, hampir setiap pabrik yang minah datangi, udah nggak nerima buruh lagi.”
“ lho kan niku[2] pinter? Nyatanya selalu dapat rengking 10 besar dikelas. Apalagi surat lamaranmu udah jauh-jauh hari niku kirim”
“ Tapi mak, minah Cuma lulusan SMP, dan yang diterima itu harus lulusan SMA”
“ Minah, mak gak mau ngerti, pokokny minah harus cari kerja bantu mak. Liat adik-adikmu yang nangis tiap malam kelaparan. Dan niku taulah.. mak ini Cuma buruh tani.”
“ mak!!!! Minah taulah itu... tapi mak juga ngerti keadaan min...”
“ besok kamu ke lamban[3] Yuni, minta cariin kerja, pulang dari kota Yuni tambah sukses dan cantik. Cobalah kamu main ke lambanya.
Saran Emak Cuma ditanggapi Minah dengan angggukan kepala, sedetik kemudian Ia langsung masuk ke kamar 2X2 meter yang sebelumnya telah terbaring 2 adiknya. Kamar yang semestinya tak layak disebut kamar.
25 November 1999
“ Minah, darimano?”
“ Eh, Mas Hanggar. Dari rumah Ayu[4] Yuni.”
“ terus sekarang mau kemana?”
  Minah mau pulang mas.” Jawab Minah tersipu
“ Jangan pulang dululah min, ikut Mas yuk cari belut di sawah bapak. Ntar kalo dapat belut itu buat Emak Minah.” Rayu Hanggar.
Masih tersipu malu mianah mengikuti jejak Hanggar. Hanggar anak kedua dari pak haji umar orang terkaya di desa. Hampir semua orang desa tau Hanggar dan Minah bukan teman biasa.
“ Min, mang tadi ngapain ke rumah ayu Yuni?” tanya Hanggar sambil menelusupkan tangan ke hangatnya tanah berair, di sela-sela padi yang mulai tumbuh. Begitu juga minah yang tak mau menyia-nyiakan hangat tanah berair itu.
“ Cari kerja Mas, minta tolong ke ayu Yuni buat di cariin kerja di Jakarta”
“ memangnya kerja apa? Kenapa gak minta tolong ma mas aja, pasti mas dengan senang hati mebantumu minah”
“ Ah.. mas, keluarga minah selalu ngerepotin keluarga mas. Apa kata pak haji ntar, dulu almarhum bapak minah uda ikut jadi buruh pak haji, dan sekarang emak yang gantiin. Eh malah sekarang minah ikut-ikutan ngerepotin. Kalau jadi buruh pak haji, ya..kan buruh pak haji juga uda banyak mas.”
Iya sih memang, bapak terkadang kuwalahan ngasih upah, sawah yang dulunya hampir 5 hektar sekarang tinggal 2 hektar. Dijual buat biaya kuliah Mas Aziz di Jakarta.” Kenang Hanggar saat bapaknya menjual 3 hektar setelah pengumuman bahwa aziz anak pertama Pak haji Umar diterima fakultas kedokteran  di sebuah universitas terkemuka di jakarta.
Detik berlalu menjadi menit, dan menit berlalu menjadi jam, dan tak terasa sore pun menyapa mereka. Waktu melepas rindu harus berkesudahan. Langkah berat mengiringi perjalanan minah pulang, dengan membawa seplastik belut yang memang mirip ular hitam mulus hasil kerja minah dan pujaan hati.
30 November 1999
Di segala penjuru terlihat hanya air bekerjaran saling mendahului tak mau ketinggaln walau terombang-ambing oleh angin bertiup. Begitupula dengan kapal feri seolah ikut perlombaan yang sengit itu. Kapal feri mula-mula menjauhidaratan kota lampung selatan melintasi selat sunda dan berhasil menju daratan paling barat pulat Jawa. Perjalananan laut selama hampir 4 jam membuat Minah mual, karena tak terbiasa.
“ Min, masih kuatkan? Kita baru saja nyampe di Pelabuhan Merak, belum naik bus menuju Jakarta, kemungkinan baru jam 6 sore nyampe rumah.” Cerocos Yuni yang khawatir melihat air muka Minah yang pucat.
“ ya, yu Minah masih kuat.” Jawab Minah tak yakin.
Thot...thot... teriak kapal memberitahu bahwa ia telah berhasil mengalahkan sainganya dengan susah payah ia telah sukses menyentuh daratan lagi. Minah dan Yuni telah disambut puluhan orang yang mengantri masuk ke kapal. Yuni melewati lorong menuju terminal merak, Minah mengekor dibelakngnya. Diujung lorong terlihat para kernet bus berlomba mendapatkan penumpang, ada yang berpura-pura menawarkan jasa bawaan, ada juga yang berbasa-basi menanyakan tempat yang akan di tuju penumpang.
Minah dan Yuni berhasil lolos dari puluhan kernet yang menyerbu mereka. Akhirnya Yuni memeutuskan Bus AC Primajasa sebagai armada yang mereka tumpangi. Bus AC tempat duduk 2-3 ini tergolong murah cukup membayar Rp 18.000,- mereka bisa menikmati perjalanan dari terminal merak menuju ke Terminal kampung Rambutan dengan cukup nyaman.
Minah dan Yuni duduk paling depan, dekat dengan pintu masuk bus. Tempat duduk belakang supir dihuni laki-laki dan wanita yang kira-kira berumur 30 tahun, nampaknya mereka adalah sebuah keluarga kecil terbukti seorang anak laki-laki umur 5-6 tahun duduk diantara mereka.
Sepanjang perjalanan tersaji pemandangan pematang sawah yang terlihat haus akibat senyum matahari masih terlalu lebar pada jam 3 sore ini. Satu jam kemudian pemandangan yang biasa Minah lihat, kini berubah menjadi bangunan-bangunan tinggi menjulang, terlihat angkuh dan tak bersahabat. Satu sama lain seakan bersaing siapa yang lebih tinggi.
5 Desember 1999
“min..min..!!!”  teriak yuni sambil membuka pintu, ia hamper menabrak kursi tamu didekatnya akibat kurang seimbang badan.
“ ya Yu!!” jawab minah ogah-ogahan deketin Yuni. Hampir setiap pulang Yuni terhuyung-huyung mabuk. Yuni bekerja tiap malam dijemput mobil, diantar mobil, pakaianya selalu mengundang gairah kaum adam. “ kerja di kafe” jawab Yuni setiap kali mina Tanya dimana ia bekerja.
“ ni, surat dari hangar” ungkap yuni sambil menyodorkan amplop berisi surat yang dipegangnya.
‘ssssuuuraat Yu? Dari mas hangar?’
Sebelum dijawab, yuni sudah lari ke ‘belakang’ muntahin semua isi barang yang bersarang di perutnya. Tak berapa lama dia masuk ke kamar dan siap merajut mimpi di tempat tidur. Minah membuka surat wangi mawar itu. Sedetik kemudian ia melihat barisan tinta yang rapi diatas kertas putih, lalu ia mulai membaca.
Teruntuk Minah
Di Jakarta
Min apa kabar? Semoga senantiasa baik, jujur mas disini khawatir, takut dan risau akan keadaanmu. Apalagi Minah sekarang berada di kota asing, yang tak pernah Minah sapa sekalipun.
Minah uda dapat kerja? Ah..pasti sudah semoga minah betah dengan pekerjaan itu.
Min… mas kangen banget ma kamu. Mau tidur teringat, mau makan teringat, mau apapun teringat kamu terus. Gaya bicara kamu, raut muka malumu, ah.. senyum matahari di belahan gunung kalah cantik dengan senyum tersipumu itu.
Min sekarang mas uda kerja jadipengantar surat, ya bahasa gaulnya si jadi tukang pos. mas memang gak mau kuliah seperti mas aziz, soalnya pasti bapak ntar jual sawah lagi. Kasihan kan buruh bapak.
Min tolong obati rasa kangen mas, mungkin dengan coretan tintamu membalas suratku ini. Min mas disini selalu untukmu.
(oya mas tahu alamat kerja yu Yuni dari adeng[5], Yu yuni. Yuli)
Salam rindu
Hanggario
8 Desember 1999
Hampir saja kucing telon yang melintas itu tertabrak motor berwarna orange, motor pengantar surat. Pak pos rupanya terburu-buru pulang. Ia tak sabar membaca surat beramplop merah dari kekasihnya nan jauh di mata. Setelah sampai dirumah hangar langsung menuju kamar yang kebetulan dekat dekat ruang tamu. Kamar yang berukuran 3X2 meter, berkasur satu yang terbungkus sprei kuning gading terbebani dengan dua bantal merah dan satu guling putih. Di dinding kamar terdapat tiga poster berukuran besar; poster professor botak tua idiot, poster penyanyi avril yang dengan bangga memamerkan udel, dan poster orang Indian yang lengkap dengan ikat kepala berbulu burung elang. Di kamar itu juga ada meja kecil tempat koleksi buku, dan koleksi bungkus rokok L.A rasa menthol bersemayam serta terdapat pula bingkai kaca cermin berada di dekat pintu kamar.
Sambil memeluk guling kesayangan, hangar mulai membaca surat wangi itu.
Untuk mu yang merindukanku
Mas Hanggar
Di kalianda, lampung selatan
Mas hangar, minah seneng banget dapat surat mas kemarin, mas jangan terlalu khawatir, Minah baik di sini tak kurang satupun.
Minah sebenarnya belum kerja, cuman disini minah bantu Ayu Yuni beresin rumah; ngepel, nyapu, nyuci, ya mungkin bahasa kerenya jadi pembentu kali ya mas? Ayu bilang, “bantu-bantu beresin rumah aja dulu selama sebulan, natar kalau kamu tau Jakarta kaya mana, baru deh Ayu cariin kerja buat kamu Min.” syukurnya sih Minah digaji Rp. 600.000 perbulan, dan jatah makan juga uda di tanggung ma Ayu.
Mas jadi tukang pos? selamat ya mas atas pekerjaan barunya, hmm jadi gak nyari belut lagi dong di sawah.
Mas titip Emak dan adeng minah yam as. Dan juga jaga hati mas buat minah seorang.
Salam rindu
Minah yusnia
11 Desember 1999
Untuk pujaan hati hangar seorang
Di Jakarta
Minah pujaan hati mas seorang, memang sering apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan, tapi memang maksud Ayu Yuni baik, Minah belum tahu Jakarta kaya mana, kenali lingkungan dulu, beradaptasi dulu itu lebih baik.
Minah, mas aziz sudah pulang dari Jakarta tapi sayangnya bukan gelar dokter yang dibawa pulang melainkan calon istri. Minah jujur saja, mas sangat kecewa apa yang dilakukan mas aziz mengingat biaya kuliah tidak sedikit yang telah dikeluarkan, apalagi bapak dan ibu mas.
Mas aziz pulang dan ingin melaksanakan pernikahan karena kurang hati-hatinya mereka berpacaran sampai calon istrinya hamil duluan. Apa memang perilaku berpacaran remaja Jakarta sangat ekstrim? Ah semoga Minah bisa jaga diri disana.
Minah kapan pulang? Mas harap januari tahu depan Minah bisa pulang, kan uda gajian ya kan? (emak menanyakan hal ini juga). Adeng Minah titip salam.
Salam hangat
Hanggario
15 Desember 1999
Untuk Mas Hanggar
Di tempat
Terima kasih mas atas nasehatnya..
Mas memang kehidupan di Jakarta memang rada ekstrim. Apalagi di rumah Ayu Yuni, sekarang banyak bapak-bapak yang sering bermalam di sini. Kata ayu mereka pacar Ayu Yuni, dan pernah Minah pergoki Ayu dengan beraninya Ayu mencium bibir bapak itu. Dan anehhnya bapak itu senang dan langsung mengajak Ayu ke kamar.
Paginya Minah tanya ke Ayu, katanya namanya juga orang pacaran bebas mau apa-apa, kan pacar itu calon suami, harus saling memberi dan menerima, toh sebelum pulang pacar ayu ngasih duit, dan duit itu juga yang kamu makan Min. pas Minah singgung tentang keberanian Ayu cium bibir bapak itu, Ayu juga punya alasan, pacar kalo nggak cium bibir kekasihnya, berarti pacaranya tidak sah.
Mas apakah memang begitu? Apa mas juga akan begitu ke Minah
Salam rindu dan cium
Minah
18 desember 1999
Untuk Minah di kota Ekstrim
Mengenai pertanyaanmu kemarin, mas juga teringat dengan perkataan mas aziz bahwa ciuman itu memang sangat nikmat namu banyak sekali dampak yang akan ditimbulkan. Sayangnya mas aziz nggak ngasih satu contoh dampak pun ke mas.
Min.. apa kita bisa bertemu dan ciuman? Maaf!!!
19 Desember 1999
Jalan protokol dari lampung selatan menuju Bandar lampung sangat sepi, membuat si pengantar surat berkesempatan menaikan speedometer sampai dengan 100 cc, sampai di tingkungan ia tak tahu kalau ada truk yang juga melaju dengan cepat. Akhirnya tabrakan yang tak mungkin terhindarkan pun terjadi.
Surat berceceran kemana-mana….
22 Desember 1999
Untuk mas hangar…
Mas tunggu minah awal tahun minah pulang…dan permintaan mas tak akan jadi sebuah permintaan lagi…
1 Januari 2000
Tempat ini sangat sepi hanya ada angin yang berbisik diantara gundukan-gundukan tanah.
Selesai Minah menyelipkan sebuah surat di antara gundukan tanah yang awalnya merah itu, ia mendekatkan wajah, memajukan sedikit bibirnya dan kemudian mencium batu nisan yang ada di depanya.
Mas hangar.. minah penuhi permintaan mas.



[1] Cakmano = bagaimana
[2] Niku = kamu
[3] Lamban = rumah
[4] Ayu = panggilan kakak perempuan
[5] Adeng = adik

Rabu, 09 Januari 2013

'perempuan oh perempuan'

Dear Pikiran......

Tadi pagi aku pun berbicara tentang perempuan atau wanita... pas pulang ke Jepara juga berbicara tentang perempuan yang menjadi pemimpin....
menurut lawan bicara pemimpin perempuan harus mempunyai 4 hal dalam dirinya...
1. memiliki kemampuan
2. memiliki keberanian
3. memiliki kemauan
4. tidak merendahkan martabat dan harkatnya sebagai perempuan.

Untuk lawan bicara saya ini memang sangat cerdas dengan memberi kesimpulan dari beberapa kasus yang dihadapi saat melihat teman-teman perempuanya yang menjadi ketua yang curhat kepadanya. Menurut saya memang semua pemimpin saya kira harus memiliki kriteria ini.

Dan tadi pagi ada perdebatan yang cukup membuka pikiran saya.. saya mengatakan bahwa perempuan juga mempunyai rasa ingin dipeluk, punya juga rasa "kebutuhan. tanggapan saya ini tersirat dari cerpen yang saya buat. Dari sini di tanggapi oleh adik kelas bahwa menurutnya cerpen saya itu cukup merendahkan martabat perempuan.

Astaghfirullah... tidak ada maksud seperti itu, saya hanya mengungkapkan berdasarkan pengalaman. Pengalaman yang saya ambil dari kisah beberapa teman perempuan juga.

Senin, 07 Januari 2013

Awal pikiranku

bermula dari banyak sekali ide yang bermunculan...

yang terbaru adalah bagaimana aku membangun kotaku tercinta (Jepara).