24
November 1999
Senja
berwarna merah tampak indah, berhias padi menguning serempak. Disegala penjuru
pematang sawah terdengar gemericik air yang satu sama lain berlari tak mau
ketinggalan. Mengalir deras, tak menghiraukan kerikil batu yang merintang. Dari
kejauhan tampak rumah berlampu bolam yang mulai redup cahayanya. Samar terlihat
sesorang memasuki rumah itu.
“
Minah, cakmano[1]?
Udah dapat kerja?”
“
Belum Mak, hampir setiap pabrik yang minah datangi, udah nggak nerima buruh
lagi.”
“ lho
kan niku[2]
pinter? Nyatanya selalu dapat rengking 10 besar dikelas. Apalagi surat
lamaranmu udah jauh-jauh hari niku kirim”
“
Tapi mak, minah Cuma lulusan SMP, dan yang diterima itu harus lulusan SMA”
“
Minah, mak gak mau ngerti, pokokny minah harus cari kerja bantu mak. Liat
adik-adikmu yang nangis tiap malam kelaparan. Dan niku taulah.. mak ini Cuma
buruh tani.”
“
mak!!!! Minah taulah itu... tapi mak juga ngerti keadaan min...”
“
besok kamu ke lamban[3]
Yuni, minta cariin kerja, pulang dari kota Yuni tambah sukses dan cantik.
Cobalah kamu main ke lambanya.
Saran
Emak Cuma ditanggapi Minah dengan angggukan kepala, sedetik kemudian Ia
langsung masuk ke kamar 2X2 meter yang sebelumnya telah terbaring 2 adiknya.
Kamar yang semestinya tak layak disebut kamar.
25
November 1999
“
Minah, darimano?”
“
Eh, Mas Hanggar. Dari rumah Ayu[4]
Yuni.”
“
terus sekarang mau kemana?”
“ Minah mau pulang mas.” Jawab Minah tersipu
“
Jangan pulang dululah min, ikut Mas yuk cari belut di sawah bapak. Ntar kalo
dapat belut itu buat Emak Minah.” Rayu Hanggar.
Masih
tersipu malu mianah mengikuti jejak Hanggar. Hanggar anak kedua dari pak haji
umar orang terkaya di desa. Hampir semua orang desa tau Hanggar dan Minah bukan
teman biasa.
“
Min, mang tadi ngapain ke rumah ayu Yuni?” tanya Hanggar sambil menelusupkan
tangan ke hangatnya tanah berair, di sela-sela padi yang mulai tumbuh. Begitu
juga minah yang tak mau menyia-nyiakan hangat tanah berair itu.
“
Cari kerja Mas, minta tolong ke ayu Yuni buat di cariin kerja di Jakarta”
“
memangnya kerja apa? Kenapa gak minta tolong ma mas aja, pasti mas dengan
senang hati mebantumu minah”
“
Ah.. mas, keluarga minah selalu ngerepotin keluarga mas. Apa kata pak haji
ntar, dulu almarhum bapak minah uda ikut jadi buruh pak haji, dan sekarang emak
yang gantiin. Eh malah sekarang minah ikut-ikutan ngerepotin. Kalau jadi buruh
pak haji, ya..kan buruh pak haji juga uda banyak mas.”
Iya
sih memang, bapak terkadang kuwalahan ngasih upah, sawah yang dulunya hampir 5
hektar sekarang tinggal 2 hektar. Dijual buat biaya kuliah Mas Aziz di
Jakarta.” Kenang Hanggar saat bapaknya menjual 3 hektar setelah pengumuman
bahwa aziz anak pertama Pak haji Umar diterima fakultas kedokteran di sebuah universitas terkemuka di jakarta.
Detik
berlalu menjadi menit, dan menit berlalu menjadi jam, dan tak terasa sore pun
menyapa mereka. Waktu melepas rindu harus berkesudahan. Langkah berat
mengiringi perjalanan minah pulang, dengan membawa seplastik belut yang memang
mirip ular hitam mulus hasil kerja minah dan pujaan hati.
30 November 1999
Di segala penjuru terlihat hanya air bekerjaran saling
mendahului tak mau ketinggaln walau terombang-ambing oleh angin bertiup.
Begitupula dengan kapal feri seolah ikut perlombaan yang sengit itu. Kapal feri
mula-mula menjauhidaratan kota lampung selatan melintasi selat sunda dan
berhasil menju daratan paling barat pulat Jawa. Perjalananan laut selama hampir
4 jam membuat Minah mual, karena tak terbiasa.
“ Min, masih kuatkan? Kita baru saja nyampe di
Pelabuhan Merak, belum naik bus menuju Jakarta, kemungkinan baru jam 6 sore
nyampe rumah.” Cerocos Yuni yang khawatir melihat air muka Minah yang pucat.
“ ya, yu Minah masih kuat.” Jawab Minah tak yakin.
Thot...thot... teriak kapal memberitahu bahwa ia telah
berhasil mengalahkan sainganya dengan susah payah ia telah sukses menyentuh
daratan lagi. Minah dan Yuni telah disambut puluhan orang yang mengantri masuk
ke kapal. Yuni melewati lorong menuju terminal merak, Minah mengekor
dibelakngnya. Diujung lorong terlihat para kernet bus berlomba mendapatkan penumpang,
ada yang berpura-pura menawarkan jasa bawaan, ada juga yang berbasa-basi
menanyakan tempat yang akan di tuju penumpang.
Minah dan Yuni berhasil lolos dari puluhan kernet yang
menyerbu mereka. Akhirnya Yuni memeutuskan Bus AC Primajasa sebagai armada yang
mereka tumpangi. Bus AC tempat duduk 2-3 ini tergolong murah cukup membayar Rp
18.000,- mereka bisa menikmati perjalanan dari terminal merak menuju ke
Terminal kampung Rambutan dengan cukup nyaman.
Minah dan Yuni duduk paling depan, dekat dengan pintu
masuk bus. Tempat duduk belakang supir dihuni laki-laki dan wanita yang
kira-kira berumur 30 tahun, nampaknya mereka adalah sebuah keluarga kecil
terbukti seorang anak laki-laki umur 5-6 tahun duduk diantara mereka.
Sepanjang perjalanan tersaji pemandangan pematang
sawah yang terlihat haus akibat senyum matahari masih terlalu lebar pada jam 3
sore ini. Satu jam kemudian pemandangan yang biasa Minah lihat, kini berubah
menjadi bangunan-bangunan tinggi menjulang, terlihat angkuh dan tak bersahabat.
Satu sama lain seakan bersaing siapa yang lebih tinggi.
5 Desember 1999
“min..min..!!!”
teriak yuni sambil membuka pintu, ia hamper menabrak kursi tamu
didekatnya akibat kurang seimbang badan.
“ ya Yu!!” jawab minah ogah-ogahan deketin Yuni.
Hampir setiap pulang Yuni terhuyung-huyung mabuk. Yuni bekerja tiap malam
dijemput mobil, diantar mobil, pakaianya selalu mengundang gairah kaum adam. “
kerja di kafe” jawab Yuni setiap kali mina Tanya dimana ia bekerja.
“ ni, surat dari hangar” ungkap yuni sambil menyodorkan
amplop berisi surat yang dipegangnya.
‘ssssuuuraat Yu? Dari mas hangar?’
Sebelum dijawab, yuni sudah lari ke ‘belakang’
muntahin semua isi barang yang bersarang di perutnya. Tak berapa lama dia masuk
ke kamar dan siap merajut mimpi di tempat tidur. Minah membuka surat wangi
mawar itu. Sedetik kemudian ia melihat barisan tinta yang rapi diatas kertas
putih, lalu ia mulai membaca.
Teruntuk Minah
Di Jakarta
Min apa kabar? Semoga senantiasa baik, jujur mas
disini khawatir, takut dan risau akan keadaanmu. Apalagi Minah sekarang berada
di kota asing, yang tak pernah Minah sapa sekalipun.
Minah uda dapat kerja? Ah..pasti sudah semoga minah
betah dengan pekerjaan itu.
Min… mas kangen banget ma kamu. Mau tidur teringat,
mau makan teringat, mau apapun teringat kamu terus. Gaya bicara kamu, raut muka
malumu, ah.. senyum matahari di belahan gunung kalah cantik dengan senyum
tersipumu itu.
Min sekarang mas uda kerja jadipengantar surat, ya
bahasa gaulnya si jadi tukang pos. mas memang gak mau kuliah seperti mas aziz,
soalnya pasti bapak ntar jual sawah lagi. Kasihan kan buruh bapak.
Min tolong obati rasa kangen mas, mungkin dengan
coretan tintamu membalas suratku ini. Min mas disini selalu untukmu.
(oya mas tahu alamat kerja yu Yuni dari adeng[5],
Yu yuni. Yuli)
Salam rindu
Hanggario
8 Desember 1999
Hampir saja kucing telon yang melintas itu tertabrak
motor berwarna orange, motor pengantar surat. Pak pos rupanya terburu-buru
pulang. Ia tak sabar membaca surat beramplop merah dari kekasihnya nan jauh di
mata. Setelah sampai dirumah hangar langsung menuju kamar yang kebetulan dekat
dekat ruang tamu. Kamar yang berukuran 3X2 meter, berkasur satu yang terbungkus
sprei kuning gading terbebani dengan dua bantal merah dan satu guling putih. Di
dinding kamar terdapat tiga poster berukuran besar; poster professor botak tua
idiot, poster penyanyi avril yang dengan bangga memamerkan udel, dan poster
orang Indian yang lengkap dengan ikat kepala berbulu burung elang. Di kamar itu
juga ada meja kecil tempat koleksi buku, dan koleksi bungkus rokok L.A rasa
menthol bersemayam serta terdapat pula bingkai kaca cermin berada di dekat
pintu kamar.
Sambil memeluk guling kesayangan, hangar mulai membaca
surat wangi itu.
Untuk mu yang merindukanku
Mas Hanggar
Di kalianda, lampung selatan
Mas hangar, minah seneng banget dapat surat mas
kemarin, mas jangan terlalu khawatir, Minah baik di sini tak kurang satupun.
Minah sebenarnya belum kerja, cuman disini minah bantu
Ayu Yuni beresin rumah; ngepel, nyapu, nyuci, ya mungkin bahasa kerenya jadi
pembentu kali ya mas? Ayu bilang, “bantu-bantu beresin rumah aja dulu selama
sebulan, natar kalau kamu tau Jakarta kaya mana, baru deh Ayu cariin kerja buat
kamu Min.” syukurnya sih Minah digaji Rp. 600.000 perbulan, dan jatah makan
juga uda di tanggung ma Ayu.
Mas jadi tukang pos? selamat ya mas atas pekerjaan
barunya, hmm jadi gak nyari belut lagi dong di sawah.
Mas titip Emak dan adeng minah yam as. Dan juga jaga
hati mas buat minah seorang.
Salam rindu
Minah yusnia
11 Desember 1999
Untuk pujaan hati hangar seorang
Di Jakarta
Minah pujaan hati mas seorang, memang sering apa yang
kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan, tapi memang maksud Ayu Yuni baik,
Minah belum tahu Jakarta kaya mana, kenali lingkungan dulu, beradaptasi dulu
itu lebih baik.
Minah, mas aziz sudah pulang dari Jakarta tapi
sayangnya bukan gelar dokter yang dibawa pulang melainkan calon istri. Minah
jujur saja, mas sangat kecewa apa yang dilakukan mas aziz mengingat biaya
kuliah tidak sedikit yang telah dikeluarkan, apalagi bapak dan ibu mas.
Mas aziz pulang dan ingin melaksanakan pernikahan
karena kurang hati-hatinya mereka berpacaran sampai calon istrinya hamil
duluan. Apa memang perilaku berpacaran remaja Jakarta sangat ekstrim? Ah semoga
Minah bisa jaga diri disana.
Minah kapan pulang? Mas harap januari tahu depan Minah
bisa pulang, kan uda gajian ya kan? (emak menanyakan hal ini juga). Adeng Minah
titip salam.
Salam hangat
Hanggario
15 Desember 1999
Untuk Mas Hanggar
Di tempat
Terima kasih mas atas nasehatnya..
Mas memang kehidupan di Jakarta memang rada ekstrim.
Apalagi di rumah Ayu Yuni, sekarang banyak bapak-bapak yang sering bermalam di
sini. Kata ayu mereka pacar Ayu Yuni, dan pernah Minah pergoki Ayu dengan
beraninya Ayu mencium bibir bapak itu. Dan anehhnya bapak itu senang dan
langsung mengajak Ayu ke kamar.
Paginya Minah tanya ke Ayu, katanya namanya juga orang
pacaran bebas mau apa-apa, kan pacar itu calon suami, harus saling memberi dan
menerima, toh sebelum pulang pacar ayu ngasih duit, dan duit itu juga yang kamu
makan Min. pas Minah singgung tentang keberanian Ayu cium bibir bapak itu, Ayu
juga punya alasan, pacar kalo nggak cium bibir kekasihnya, berarti pacaranya
tidak sah.
Mas apakah memang begitu? Apa mas juga akan begitu ke
Minah
Salam rindu dan cium
Minah
18 desember 1999
Untuk Minah di kota Ekstrim
Mengenai pertanyaanmu kemarin, mas juga teringat
dengan perkataan mas aziz bahwa ciuman itu memang sangat nikmat namu banyak
sekali dampak yang akan ditimbulkan. Sayangnya mas aziz nggak ngasih satu contoh
dampak pun ke mas.
Min.. apa kita bisa bertemu dan ciuman? Maaf!!!
19 Desember 1999
Jalan protokol dari lampung selatan menuju Bandar
lampung sangat sepi, membuat si pengantar surat berkesempatan menaikan
speedometer sampai dengan 100 cc, sampai di tingkungan ia tak tahu kalau ada
truk yang juga melaju dengan cepat. Akhirnya tabrakan yang tak mungkin
terhindarkan pun terjadi.
Surat berceceran kemana-mana….
22 Desember 1999
Untuk mas hangar…
Mas tunggu minah awal tahun minah pulang…dan
permintaan mas tak akan jadi sebuah permintaan lagi…
1 Januari 2000
Tempat ini sangat sepi hanya ada angin yang berbisik
diantara gundukan-gundukan tanah.
Selesai Minah menyelipkan sebuah surat di antara
gundukan tanah yang awalnya merah itu, ia mendekatkan wajah, memajukan sedikit
bibirnya dan kemudian mencium batu nisan yang ada di depanya.
Mas hangar.. minah penuhi permintaan mas.